Dewasa ini,
teknologi semakin maju dan hampir selalu ada di setiap aktivitas masyarakat,
khususnya pemuda. Disamping mempermudah dalam proses bertukar informasi,
teknologi juga menjadi suatu alat yang sangat efisien di dalam proses
berkomunikasi. Tetapi, proses komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi
sekunder alias tidak langsung. Pengamat budaya mengkhawatirkan hal ini jika
terus terjadi di Negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia. Karena bisa
saja kebiasaan tersebut menjadi budaya baru dalam hubungan antar individu yang
justru akan menjadi perusak budaya di Indonesia yang sudah baik di dalam
hubungan antar individu. Dari sini, saya akan membahas bagaimana hal tersebut
dapat terjadi dan tanggapan saya mengenai kasus diatas.
“Kebudayaan
adalah kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral,
hukum, adat istiadat & semua kemampuan kebiasaan lain yang diperoleh
seseorang sebagai anggota masyarakat.”-Sir
Edward Tylor.
Namun
seiring berjalannya waktu dan teknologi semakin canggih, rasa tanggung jawab
sudah pudar terhadap budaya. Masyarakat tidak lagi peduli dengan budayanya. Hal
ini disebabkan semakin gencarnya media elektronik, khususnya TV yang selalu
menayangkan kebudayaan luar. Hal ini dengan mudahnya merusak pola pikir
masyarakat khususnya para generasi muda , mereka cenderung melupakan kebudayaan
sendiri dan beralih ke budaya luar. Kebudayaan nasional adalah kebudayaan kita
bersama yakni kebudayaan yang mempunyai makna bagi kita bangsa Indonesia.maka
dari itu kita wajib untuk menjaga dan melestarikannya. Hal ini sebenarnya akan
menimbulkan rasa tanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan tersebut. Begitu
juga halnya dengan pemerintah , pemerintah harus tegas dalam menjaga dan
melestarikan kebudayaan Indonesia dengan cara membuat peraturan
perundang-undangan yang bertujuan untuk melindungi budaya bangsa. Jika perlu
pemerintah harus mematenkan budaya yang ada di Indonesia agar tidak jatuh ke
tangan Negara lain.
Selain itu, proses komunikasi yang kian pasif menjadikan
generasi muda Indonesia jaman sekarang cenderung menjadi individualistis.
Bahkan kepercayaan diri mereka semakin tidak tampak di umur yang seseorang seharusnya
sudah mulai bisa mentransfer ide dan pemikirannya. Jika hal ini terus terjadi,
maka ikatan di dalam masyarakat akan semakin merenggang, dan akan berakibat
pada terbentuknya celah yang akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak asing untuk
keuntungan mereka, termasuk hal-hal yang jauh dari kebudayaan-kebudayaan yang
ada Indonesia itu sendiri. Oleh karena itu, generasi muda pada saat ini jangan
hanya dituntut untuk meraih nilai dan prestasi yang tinggi, melainkan juga
harus dituntut untuk menjadi generasi muda yang memiliki tanggung jawab
terhadap bangsa dan menjadi pelestari budaya yang baik bagi Negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar